Anda tahu karena saya yang mengatakan…

Oleh : Jane Lindstrom

KATA PUJIAN YANG KITA LONTARKAN PADA SESEORANG PUNYA ARTl YANG BESAR BAGI HIDUP ORANG TERSEBUT.

HUJAN di musim semi yang dingin masih mengucur membasahi kaca-kaca jendela rumah saya, dan mematahkan semangat saya, membuat saya semakin tertekan karena harus menjalani operasi yang membutuhkan waktu pemulihan yang relatif sangat lama.

Tiba-tiba saya mendapat paket, yang membawa pesan dari seorang kenalan saya, seorang guru yang tiap hari saya jumpai dalam perjalanarmya ke sekolah.

“Jean yang baik,” katanya. “Sebentar lagi pelajaran akan saya mulai, namun saya merasa harus menulis sedikit pesan ini kepada Anda sebelum murid-murid saya tiba. Saya rindu senyuman Anda dan lambaian tangan Anda seperti hari-hari yang lalu. Sejak Anda sakit saya tak mendapat senyum dan lambaian tangan seperti yang Anda berikan kepada saya. Doa saya adalah semoga Anda cepat sembuh. Mungkin Anda akan terkejut menerima surat pendek ini, namun bagi saya dunia ini tak akan cukup membahagiakan tanpa kehadiran Anda di dalamnya. Dan tentunya Anda tak akan menyadari hal ini bila saya tidak mengatakannya kepada Anda, bukan?

Setelah membaca suratnya tiba-tiba perasaan kecewa dan putus asa yang tadinya membebani saya lenyap begitu saja. Kini saya sadar bahwa ada seseorang yang merindukan saya, ada seorang yang membutuhkan saya. Pengetahuan tentang hal ini terbukti lebih efektif dari obat apapun yang diberikan dokter kepada saya.

Saya kembali membaca rangkaian kata-kata indah yang terukira dalam kartu tersebut berulang-ulang, dan dengan hati-hati, mencoba menanamkan pesan demi pesan yang tersirat antara baris-baris kalimat itu. Kata-kata yang terakhir benar-benar telah begitu memikat perhatian saya: “Bagaimana mungkin Anda bisa tahu bila saya tidak mengalakannya kepada Anda?” Tentu saja saya tidak akan pernah tahu kalau saya punya arti besar dalam hidupnya bila ia tidak mengatakannya kepada saya, dan pastilah saya masih akan merasa kesepian dan tertekan. Bagainiana mungkin seseorang dapat membaca pikiran dan maksud hati orang lain — bila orang itu tidak memberi-tahukan kepada kita, ataupun bila sama sekali tidak ada isyarat.

Pada abad yang canggih dan sama sekali tidak manusiawi ini banyak di antara kita yang cenderung menempatkan tali kekang pada emosi-emosi positif kita. Sebaliknya, emosi-emosi negatif kita sering tersalur tanpa kendali dan yang tak seharusnya kita ungkapkan. Kita sering memendam kata-kata cinta, kekaguman dan dukungan/persetujuan kita. Padahal sebenarnya bila kita ungkapkan, kata-kata cinta, perhatian, sanjungan dan kekaguman kita mungkin akan memberikan setetes air kebahagiaan kopada orang yang sedang dilanda kesedihan, sehingga dapat sedikit mengangkat orang itu dari lembah keputusasaannya, memberikan secercah harapan baginya. Mungkin pula kata-kata kita dapat memberikan sinar terang ilalam hidup seseorang yang serba menjemukan.

Saya ingat sebuah peristiwa yang indah akhir-akhir ini ketika saya sedang berbelanja di sebuah pasar swalayan. Saya sedang menunggu giliran untuk membavar barang-barang yang saya beli. Di depan saya adalah seorang lelaki yang baru saja menyelesaikan pembayarannya. Yang menarik perhatian saya adalah: pria tersebut inelontarkan senyuman hangatnya kepada gadis yang saat itu menjadi kasir, sambil melontarkan kata-kata pujian kepadanya karena telah membungkus barang-barang belanjaannya dengan cermat. Si gadis begitu terperanjat mendengar kata-kata pujian yang sungguh tak terduga-duga datangnya. Wajah yang tadinya muram karena lelah menjadi cerah seketika, sirnalah segala kelelahan dan ketegangan yang ada dalam dirinya sepanjang hari itu. Ia sangat berterima kasih kepada pengunjung pasar swalayan itu. Setelah itu ia ganti melayani saya dengan senyum yang cerah dan kata-kata yang menyenangkan. Pada kesempatan itu beratus-ratus orang yang dilayaninya akan menangkap cahaya yang terpancar di wajahnya dan meneruskannya kepada orang lain lagi. Begitu seterusnya.

Setiap orang, bila ia harus melakukan yang terbaik, harus diperhatikan dan dihargai. Di manapun dia berada, baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, maupun di jalan raya, seseorang punya kesempatan yang tak terbatas untuk mengutarakan dan memenuhi tuntutan-tuntutan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Dalam realisasinya kita harus bisa membentuk rantai-rantai itikad baik kita.

Tentu saja ada kalanya kita boleh mengkritik, namun perlu kita perhatikan bahwa kita harus benar-benar memperhatikan kritik yang kita lontarkan; dampak-dampak apa yang akan timbul bila kita ucapkan kata-kata kritik tersebut. Ketika saya menghadiri sebuah seminar, saya melihat seorang wanita yang berbicara dengan bebas pada saat dia tidak puas pada pendapat rekannya. Kendatipun demikian, ia selalu mendahului kritik-kritiknya ataupun pernyataan ketidakpuasannya dengan mengungkapkan penghargaannya, dan dengan menyebutkan hal-hal positif tentang orang yang sedang dikritiknya. Bila pandangannya itu dapat diterima dan ia benar-benar dapat mempraktekkan segala perkataannya, itu berarti ia telah menyumbangkan saran-saran yang membangun bagi kepentingan bersama. Wanita itu dapat melihat bahwa biasanya kritik-kritiknya akan mendapat sambutan dan bahwa saran-sarannya akan diterima dengan segala kerendahan hati.

Wanita itu juga menyadari bahwa pada umumnya seseorang akan berusuha untuk lebih meyakinkan orang lain daripada dirinya sendiri. Kebanyakan dari kita ingin diberitahu tentang bagaimana pekerjaan yang kita lakukan. Bila usaha keras kita tak diperhatikan orang dan tak seorang pun memberikan komentar baik pada kita, tentulah kita akan menjadi seorang yang ceroboh dan sembrono.

Setiap hari dalam kehidupan ini kita dihadapkan pada berbagai pilihan. Kita boleh memilih ingin berkomentar atau tutup mulut. Apapun yang kita pilih dan apapun yang menjadi keputusan kita, mungkin saja tidak akan langsung mempengaruhi hidup seorang pun juga, namun di kemudian hari pengaruh itu akan kita lihat. Bahkan mungkin keputusan yang kita buat atau komentar yang sempat kita lontarkan saat itu akan menentukan jalan hidup seseorang.

Seorang murid yang sedang praktek mengajar pada suatu saat mendapat tugas praktek mengajar murid-murid kelas enam selama enam minggu pada pusat kegiatan luar sekolah. Dengan sangat antusias dan tanpa kenal lelah ia telah mempersiapkan berbagai pengalaman untuk murid-murid tersebut. la berharap dapat membagikan pengalamannya tentang kehidupan sawah, ladang dan hutan kepada mereka. Malang sekali nasibnya. Hari-hari dalam minggu itu ternyata merupakan hari-hari yang penuh bencana. Semua rencananya seakan hancur berantakan karena hujan yang turun terus menerus selama empat hari, lagi pula murid-murid yang diajarnya adalah anak-anak yang kasar, suka gaduh, dan sama sekali tidak bisa diajak kerja sama. Ketika pada akhirnya anak-anak itu berkemas untuk kembali ke daerahnya, guru praktek itu menghampiri saya seraya mencucurkan air mata: “Saya memang telah menyadari sejak semula bahwa saya tak punya potensi mengajar,” katanya. “Memang, saya tak pantas buat pekerjaan ini.”

Betapa sayangnya! Seandainya saja ia dapat bersikap lebih dewasa dan dengan pengalamannya yang akan makin lama makin meningkat, tentulah wanita muda yang sensitif ini akan menjadi seorang guru yang terkemuka. Apa daya, saya tak mampu mengubah pikirannya lagi, ia tetap pada keputusannya: meninggalkan karirnya.

Di antara murid-murid yang mulai berdesak-desakkan untuk naik bus, seorang gadis kecil dengan senga

ja berjalan berlambat-lambat di belakang teman-temannya. Tak beberapa lama kemudian ia mendekati guru praktek itu dan berkata: “Terimalah ucapan terima kasih saya pada ibu. Hari-hari yang saya lalui bersama ibu benar-benar merupakan hari-hari yang indah bagi saya. Ibu guru telah mengajarkan sangat banyak hal kepada saya. Tahukah ibu bahwa sebelum ibu bersama kami, saya tak pernah dapat mendengar suara lembut sang angin yang menerpa pucuk dedaunan? Suara angin itu begitu mesra sehingga saya tak akan pernah mampu melupakan keindahan yang telah Anda berikan. Terimalah puisi sederhana karangan saya ini. Hampir saja saya tak berani memberikannya kepada ibu.”

Gadis kecil itu lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyerahkan kertas itu kepada si guru praktek lalu berlari mengikuti teman-temannya yang sedang berebut naik bus. Dibacanya baris-baris puisi karangan gadis kecil itu. Rangkaian kata yang tertulis dengan pinsil itu telah menggugah hatinya sehingga membuatnya menitikkan air mata. Kini tangisnya adalah tangis kebahagiaan. Saya menarik nafas lega. Syukurlah, ada gadis kecil itu. Gadis kecil itu telah membuat pilihan yang tepat. la telah mengubah pikiran guru praktek muda sekaligus mengubah jalan hidupnya. Isyarat-isyaratnyalah yang membuat banyak anak lain ikut menikmati kasih dan bimbingan seorang guru yang baik.

Seperti yang telah kita baca di atas, kata-kata penghargaan dan kasih tersebut sangat penting artinya bagi seseorang, terutama yang baru saja terjun meniti karir, apalagi bila seseorang yang baru saja memulai hidupnya. Anda perlu belajar dari pengalaman bahwa waktulah yang akan mengobati penderitaan dan membalut luka-luka di hati, juga bahwa saat-saat yang menyedihkan akan selalu diikuti dengan saat-saat yang membahagiakan; kegagalan akan menjadi kunci kesuksesan. Memang anak anak itu harus mendapat bimbingan dan disiplin yang konsisten agar nantinya dapat menjadi warga negara yang baik. Namun di atas segalanya, anak-anak kata-kata cinta dan penghargaan dengan tulus. Cinta kasih yang terpendam di hati kita pasti tak akan pernah mencapai mereka yang kita kasihi, bagaikan sepucuk surat yang ditulis, namun tak pernah dikirimkan. Bila mereka harus merasakan keamanan secara emosional, mereka perlu mendengar kata-kata hiburan: “Saya mengasihimu. Saya bangga padamu, dan saya senang sekali kamu tinggal di sini.” Suara-suara lembut dan tatapan mata yang ramah serta kata-kata yang manis lembut akan dapat menyampaikan pesan isi hati terdalam walaupun kepada si bayi sekalipun.

Manusia dari berbagai latar belakang usia dan keluarga, pendidikan, jabatan dan tingkat keberhasilan — semuanya membutuhkan cinta kasih dan pengenalan agar dapat hidup dengan bahagia. Kita membutuhkan kedua hal itu agar dapat mengalahkan kedua musuh utama penghancur kebahagiaan manusia, yaitu: kesepian dan perasaan diabaikan.

Tak seorang pun di antara kita yang ingin menjadi penipu, penjilat; juga tak seorang pun yang ingin menyatakan kata-kata emosi yang sebenarnya tidak kita rasakan. Ketidaktulusan seperti itu dapat dengan mudah terlihat dan tidak akan menguntungkan siapa pun juga — dan pada dasarnya merupakan bentuk penipuan. Sama halnya bila kita menahan kata-kata yang sebenarnya harus didengar oleh seseorang.

Catatan yang telah membuat kita memulai rantai pikiran ini masih ada pada genggaman tangan saya, dan suatu gagasan akan segera tiba. Saya punya pesan yang harus segera dikirimkan, dan saya hanya akan mengirimkan pesan tersebut kepada seseorang segera setelah saya merasa mampu mengirimkannya.

Beberapa mil dari rumah saya, saya melihat seorang wanita petani setengah baya telah membersihkan sisi jalan dari semak-semak dan mulai menanamkan bunga-bunga yang indah. Setiap kali melewati tempat itu, hati saya tentu dipenuhi suka cita. Tentu saja si wanita petani itu akan berbahagia pula bila mengetahui sukacita yang saya rasakan setiap kali melewati rumahnya. Namun bagaimana dia mengetahuinya bila saya tidak mengatakannya kepadanya?

(Dari majalah Sukses dan Prestasi, Mitra Utama).

Artikel terkait kesehatan dan kebugaran jiwa klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s