Sili hias

Namanya pendek: sili. Namun, Macrognathus armatus itu cukup tenar di jagad maya ikan hias negeri Barrack Obama. Ikan pipih panjang bermotif batik zigzag itu laku keras sebagai pengisi akuarium air tawar. Di dunia maya harga ikan sepanjang 9 cm itu mencapai $16,49 setara Rp164.000/ekor.

Nun di Purwokerto, Jawa Tengah, sebagaimana ditulis oleh trubus-online.co.id, sili jenis Macrognathus aculeautus bernasib berbeda. Ikan bermotif batik dengan lingkaran di punggung itu sekadar ikan konsumsi. Rasa dagingnya tidak kalah dengan nila. Padahal, aculeatus yang dijual Rp15.000/ekor untuk panjang 25 cm itu memiliki potensi sebagai ikan hias.

Sili termasuk ikan sungai yang banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Karena bentuknya panjang seperti belut dan berduri, anggota dari famili Mastacembelidae itu populer disebut spiny eel alias belut berduri. Hasil penelitian Fishbase – lembaga pusat informasi ikan dalam naungan organisasi pangan dunia (FAO) – menunjukkan terdapat  83 spesies sili di dunia. Dari jumlah itu 15 jenis di antaranya hidup di sungai tawar di Asia, termasuk 10 jenis di tanahair, seperti Macrognathus aculeatus, M. maculatus, dan Mastacembelus unicolor – ketiganya ada di Jawa.

Ikan hias

Dua dari tiga suku famili Mastacembelidae, yaitu Macrognathus dan Mastacembelus terdapat di Indonesia. Hanya suku Sinobdella yang tidak ditemukan di Indonesia. Macrognathus dan Mastacembelus sepintas sama, perbedaannya terletak pada jumlah spina – duri – di punggung. Macrognathus memiliki 31 duri, Mastacembelus 33 duri. Keduanya mempunyai sosok tubuh menarik. Bentuknya ramping seperti sabuk dengan balutan warna di sekujur tubuh. Di Amerika Serikat dan negara Uni Eropa mereka mengisi akuarium-akuarium di ruang tamu.

Sili jadi santapan

Yang tak kalah menarik Mastacembelus erythrotaenia. Sebagai ikan hias, tubuhnya yang pipih dengan motif batik hitam, merah, serta strip kuning terlihat sempurna. Keindahan tubuhnya kian kentara saat ditaruh pada akuarium minim cahaya. Semburat merah dan kuning terpancar dari tubuhnya yang mencapai panjang 55 cm itu bak kilatan api. Oleh karena itu, julukan belut berduri api melekat pada Mastacembelus.

Sili lainnya Macrognathus zebrinus, memiliki sisik bermotif batik bak zebra. Sedangkan Mastacembelus unicolor, bermotif  lurik  bagai selembar tenunan kain batik, dan Macrognathus siamensis bermotif menyerupai merak jantan yang tengah mengembangkan ekor. Itulah sebabnya siamensis dijuluki peacock eel alis belut merak.

Terancam punah

Sejatinya dari ketiga spesies sili yang ada di Jawa belum masuk daftar Red List (spesies yang terancam keberadaannya, red) yang dikeluarkan oleh lembaga konservasi alam dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2010. Namun, hasil penelitian yang dilakukan sejak 2000 di sungai-sungai di Jawa Tengah, populasi tilan – sebutan sili di Sumatera – berada di ujung tanduk.

Penelitian yang dilakukan di Sungai Serayu, Klawing, Banjaran, Mengaji, dan Logawa – semuanya di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga Jawa Tengah – tak satu pun dari lokasi itu bisa ditemukan lebih dari 10 ikan. Rata-rata 3 – 4 ekor di setiap tempat dengan jantan lebih dominan. Lebih tragis lagi Macrognathus maculatus, hanya ditemukan 1 ekor di hilir Sungai Serayu.

Cemaran pestisida, herbisida, dan pemakaian pupuk berlebih ke sungai menjadi penyebab terancamnya habitat alami sili. Belum lagi, limbah rumahtangga yang dibuang ke sungai, menjadi sumber pencemaran. Dan yang tak kalah penting: rusaknya tepian dan dasar sungai akibat aktivitas penambangan pasir dan batu. Di sepanjang Sungai Serayu, Logawa, dan Klawing truk pengangkut pasir dan batu lazim ditemui hilir-mudik. Pasir yang diambil dari sungai dapat merusak habitat sili yang menyukai kondisi dasar sungai berlumpur, pasir, serta kaya serasah daun. Lewat penelitian ekologi diharapkan populasi sili meningkat dan memperkaya pilihan hobiis ikan hias. (Dr rer. nat W. Lestari, MSc dan Drs Sugiharto MSi, staf pengajar Laboratorium Ekologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)

14 responses »

  1. W.Lestari mengatakan:

    Maaf ini artikel saya pada trubus tetapi kok gambarnya di acak acak seperti ini. Tolong patuhi etika copy right karya ilmiah orang lain.

    • rssboster mengatakan:

      Diacak-acak seperti apa maksud Anda?
      Soal copyright, saya mengambil artikel di trubus-online.co.id yang disebutkan bahwa artikel bisa disebarluaskan selama menyebutkan sumbernya.
      Jika Anda memang benar penulis artikel tersebut, silakan Anda tanyakan hal tersebut ke redaksi trubus-online.co.id.
      Terima kasih.

  2. sonny mengatakan:

    hebaaaaaaaaaattttttttttttttttttt disana dibuat ikan hias, disini dibuat isi perut wkwkwkwk :)

  3. heru mengatakan:

    betul…betul…betul… klo soal makanan indonesia rajanya.MALAYNGSIAL ja kalah n gak bakaln bsa nyontek.paling2 bsax makan ikan teri n wader

  4. angga kharisma putra mengatakan:

    di daerahku ikan tilan ini masih bnyk di temukan… bahkan di jadikan ikan konsumsi oleh masyarakat setempat,warna ikan cukup menarik seprti ular piton. ada jg yg berwarna lurik….

  5. @lostmyname mengatakan:

    padahal di desaku, mulai punah tuh :(

  6. Tuhan yg nempel didinding mengatakan:

    Hem,disungai juwana,jg ada jenis ikan sili.Klu ngk salah motifnya bulet2 agak kecoklatan.Disini jg udah langka

    • h,wawan mengatakan:

      dijuana sdh diganti bandeng mungkin mangkanya maupunah ikan sili

    • WARAS SUYANTO mengatakan:

      dulu. waktu saya sekolah SD sepulang sekolah sering mecari ikan sili di anak sungai bengawan solo, tepatnya di daerah sidoharjo Sragen, ngak tau kalau sekarang ………

  7. wail mengatakan:

    memang hebat Indonesia. ada cerita menarik dan lucu. Suatu saat P. Basofi Sudirman (Mantan Gub. Jatim) pulang dari kunjungan kerja bawa oleh-oleh ikan arwana (harga +- 10jtaan). Karena salah naruh, sama pembantunya digoreng.

  8. JUF mengatakan:

    DI SUMATERA SELATAN DI KENAL DENGAN NAMA IKAN TILUK

  9. MENONE mengatakan:

    waaaaaaaahhhh orang indonesia emg kaya sob…..ikan hias buat lauk pauk ya ga hehehehehehehe………

  10. keripikotaku mengatakan:

    hohoho
    lmyan mhal jga tuh . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s